Perbedaan Kategori dan Tag pada WordPress

Kategori dan tags adalah dua cara pengelompokan pada WordPress. Namun sayang masih banyak blogger yang nampaknya cukup bingung. Apa sih bedanya? Bagaimana cara pakainya? Nah, kali ini kita akan membahas bedanya kategori vs tag serta masalah yang berhubungan dengan keduanya.

Pada WordPress, kategori dan tag sering juga disebut taxonomi. Dengan kategori dan tag, kamu dapat mengelompokan pos agar pembaca dapat dengan mudah mencari pos dengan tema atau topik yang sama.

Meski secara teknis sama, ada perbedaan mendasar di antara keduanya.

Untuk lebih jelasnya, yuk sama-sama kita lihat apa saja sih bedanya kategori dan tag.

Apa itu kategori pada WordPress?

Secara singkat, kategori adalah cara untuk mengelompokan pos pada satu tema atau topik tertentu. Topik untuk kategori biasanya lebih umum dan tidak terlalu spesifik.

Meski ada baiknya bila satu pos berada pada satu kategori tertentu, kamu bisa saja memasukan sebuah pos pada beberapa kategori sekaligus. Tapi jangan terlalu banyak juga yah! idealnya sih tidak lebih dari 2-3 kategori per pos.

Selain kategori, pada WordPress juga terdapat sub-kategori yang bisa dijelaskan sebagai kategori di dalam kategori. Meski begitu sub-kategori ini tidak perlu dibuat bila kamu tidak membutuhkannya.

Untuk lebih jelasnya, kamu bisa melihat contoh berikut.

Bila saya memiliki situs mengenai berita sepakbola, saya akan memakai kategori Liga untuk mengelompokan berita-berita tersebut, misalnya saja Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, dll.

Selain itu, saya mungkin akan membuat kategori berdasarkan ajangnya, apakah itu friendly, pertandingan resmi liga, ajang Liga Champions, dsb.

Dan sebagai tambahan, mungkin saya akan membuat sub-kategori berdasarkan nama klub yang ada pada liga-liga tersebut seperti sub-kategori Arsenal, Chelsea, atau Liverpool untuk kategori Liga Inggris.

Lalu apa bedanya sub-kategori dengan tag?

Menyambung contoh di atas, tag bisa saya gunakan untuk sesuatu yang lebih spesifik seperti nama pemain klub tersebut.

Cara Membuat dan Mengkategorikan Pos WordPress

Pada setiap instalasi WordPress ada satu kategori default yaitu ‘tak berkategori’ (uncategorized) dan semua pos yang kamu buat akan secara otomatis masuk ke dalam kategori tersebut.

Cara termudah untuk mengkategorikan pos adalah melalui editor pos WordPress.

Cukup lihat metabox Kategori dan klik tautan Tambah Kategori Baru lalu masukan nama kategori yang kamu inginkan. Bila kamu sudah pernah membuatnya, kategori ini dapat digunakan lagi tanpa harus membuatnya lagi.

Contoh metabox kategori pada setiap editor pos WordPress

Cara lain untuk membuat kategori baru adalah melalui menu POS » KATEGORI. Selain membuat baru, di sini kamu bisa menentukan slug URL dan memberi deskripsi singkat mengenai kategori tersebut.

Selain itu, di sini kamu bisa mengubah kategori ‘Tak Berkategori’ (uncategorized) menjadi nama lain yang lebih menarik.

Apa Itu Tag pada WordPress?

Tidak seperti kategori, tag digunakan untuk mengelompokan pos pada satu tema khusus yang lebih detail dari kategori.

Seperti pada contoh sebelumnya, saya bisa menggunakan nama-nama pemain yang ada pada sebuah klub sepakbola sebagai tag. Nama pemain jelas lebih khusus dibanding nama klub atau nama liga yang saya pakai.

Agar lebih mudah, tag bisa kamu ambil dari keyword tertentu yang ada pada sebuah pos. Dengan begitu, tag bisa dipakai dalam jumlah yang lebih banyak dibanding kategori.

Memang berapa banyak tag yang bisa saya pakai?

Berdasarkan panduan wordpress.com, ada baiknya kalau jumlah kategori dan tag yang kamu gunakan totalnya tidak lebih dari 15 buah. Selain agar pembaca tidak bingung, penggunaan tag dan kategori yang terlalu banyak juga bisa dianggap sebagai spam.

Cara Membuat dan Memberi Tag pada Pos WordPress

Sama seperti kategori, tag dapat ditambahkan dengan mudah saat kamu membuat pos.

Cukup lihat metabox tag, dan masukan nama tag yang kamu inginkan.

Cara menambahkan tag melalui metabox tag pada editor pos WordPress.

Cara lainnya adalah melalui menu POS » TAG. Di sini kamu bisa membuat nama tag baru lengkap dengan slug URL dan deskripsi singkat tag tersebut.

Penutup

Saya harap tutorial singkat ini dapat membantu kamu menentukan apa saja kategori dan tag yang bisa kamu pakai pada situs kamu.

Bila kamu masih bingung, mungkin ada baiknya kamu membuat keduanya saat kamu memiliki pos dalam jumlah yang cukup banyak. Dengan begitu kamu bisa melihat gambaran yang lebih baik dalam menentukan kategori dan tag yang harus kamu gunakan.

Cara lain yang bisa kamu gunakan adalah ‘mencontek’ struktur yang dimiliki situs lain yang memiliki niche yang sama. Tapi yang disalin hanya strukturnya saja yah, jangan sampai kontennya juga!

Apakah kamu memiliki tips dan trik lain seputar tag dan kategori pada WordPress? Jangan segan untuk meninggalkan komentarmu di bawah ini yah!
Pos Terkait:

2 thoughts on “Perbedaan Kategori dan Tag pada WordPress”

  1. 1. kalo ingin artikel nya bisa SEO, gmn kalo sub judul dijadikan tag bagus ga ya. trus klo dalm satu artikel byak sub judul nya, kebetulan bentuk nya tutorial gt jadi banyak gan sub judulnya gmn ya klo seperti itu apakah baik klo sub judul nya dijadikan tag juga ato harus beda. maksimal berapa sub judul dlm 1 artikel

    2. dalam 1 website sebaiknya ada berapa keyword utama dan keyword turunan nya

    3. dalam 1 artikel sebaiknya ada berapa keyword utama dan keyword turunan nya

    1. Syafiq Salman

      Hi Ester, wow, ditinggal pulang kampung langsung diberondong banyak pertanyaan 🙂

      1. Sub-judul (Heading H2, H3, H4, dst) dan tag sama-sama memiliki nilai tersendiri dalam SEO. Untuk pemakaiannya, saya sendiri lebih memilih untuk menggunakan kata/kalimat yang berbeda untuk keduanya meski kadang bisa juga sama. Sebagai contoh, bila saya membuat artikel dengan tema ‘cara membuat blog gratis’, saya mungkin akan memakai nama-nama platform blogging gratis sebagai salah satu sub-judulnya. Di sini nama tag yang saya pakai bisa sama dengan nama sub-judulnya.

      Untuk sub-judul, saya kira tidak ada batasan. Namun gunakan seperlunya dan gunakan dengan efisien. Akan lebih baik bila penggunaan sub-judul bisa mencerminkan struktur tulisan pada sebuah artikel. Contoh variasi penggunaan sub-judul yang efisien mungkin bisa dilihat pada struktur tulisan yang ada di Wikipedia di mana kita bisa melihat gambaran jelas sebuah artikel hanya dengan melihat daftar isinya saja.

      2 & 3. Kalau untuk pertanyaan yang ini mungkin akan lebih jelas bila ditanyakan ke master-master SEO saja 🙂

      Di bisablog.com sendiri, saya memakai banyak keyword utama pada websitenya dan hanya satu keyword utama pada setiap artikelnya. Kalau untuk keyword turunannya, saya bisa memakai beberapa keyword sekaligus, karena itulah banyak artikel yang ada di situs ini bisa cukup panjang.

      Satu catatan penting, tidak semua orang bisa ‘nangkring’ di halaman pertama Google bila kita mengincar banyak keyword turunan sekaligus. Namun bila mba/mas Ester tertarik, saya rasa tutorial dari Neil Patel ini cukup menarik untuk dibaca.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.